Rabu, 11 Juli 2012

Sholat Dhuha dan Keseimbangan Diri

Sholat Dhuha dan Keseimbangan Diri 



Dalam menjalankan sholat dhuha, meski seseorang mempunyai pengharapan agar Allah memberikan kemudahan khususnya kaitannya dengan rezeki hal yang paling mendasar adalah tetap menunjukan adanya iman dalam diri seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa disamping kebutuhan secara materi manusia juga harus menjaga kebutuhannya di luar materi. Dan yang paling penting dalam hal ini adalah keimanan.

Inilah yang dinamakan dengan keseimbangan diri yakni keseimbangan kebutuhan fisik dan keseimbangan kebutuhan spiritual. Perlunya realisasi keseimbangan dalam AL-Qur’an Allah menegaskan sebagiamana firman-Nya berikut :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.(QS. Al-Qashas 28 : 77).

Rasulullah SAW bersabda: “Yang terbaik diantara kalian bukanlah orang yang beramal untuk dunianya tanpa akhirat juga bukan orang yang beramal untuk akhiratnya dan meninggalkan dunianya tetapi, yang terbaik diantara kelian adalah orang yang beramal untuk keduanya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ketika ada seseorang yang membiasakan diri menjalankan sholat dhuha ditengah aktivitas kerja, maka ia termasuk orang yang telah menyeimbangkan diri untuk mencapai kehidupan dunia dan akhirat. Kenapa ? Sebab, disamping ia tengah mencari rezeki untuk kepentingan jasmaninya ia juga telah mengaktifkan jejak spiritual  yang pada hakikatnya telah menanamkan pahala untuk kepentingan kehidupan diakhirat.

Rasululllah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah maha mulia lagi maha agung berfirman : “ Hai anak Adam, cukuplah Aku dengan melakukan empat rakaat shalat sunnah dhuha maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu pada akhir hayatmu. (HR. Ahmad dan Abu Ya’la dari Uqbah bin Amir Al-Juhani).

Langkah yang digerakkan melalui keseimbangan diri memang dapat menumbuhkan optimisme dalam melakukan segala hal. Ia tidak takut dengan ancaman bangkrut atau kehilangan sesuatau pekerjaan selagi ia berusaha yang kemudian diimbangi dengan aktivitas sholat dhuha karena hanya inilah langkah yang baik untuk terus dilakukan didalam aktivitas kerja.

Dengan demikian semoga Allah SWT akan memberikan kemuliaan yang melimpah dan rezeki yang halal sekaligus berkah. Maka marilah kita melakukan sholat dhuha dengan sungguh-sungguh dan khidmat sehingga Allah akan mengabulkan segalanya.

Sholat Dhuha: Rezeki Melimpah, Halal dan Berkah (Bagian 2)

Sholat Dhuha: Rezeki Melimpah, Halal dan Berkah (Bagian 2)



Pada posting sebelumnya,Sholat Dhuha: Rezeki Melimpah, Halal dan Berkah (Bagian 1)  telah dijelaskan akibat dari orang rezekinya melimpah namun digunakan untuk ingkar kepada Sang Pemberi Rezeki. Namun, lain persoalan apabila rezeki yang cukup atau berlimpah itu ia belanjakan dijalan Allah, maka Allah akan memberikan sekaligus melipat gandakan karunia berupa apa saja yang dikehendaki. Karena itu, hendaklah rezeki yang kita peroleh, walau tidak melimpah seperti air keran sebaiknya dibelanjakan dijalan Allah. Sebab Allah sudah menjanjikan akan mengganti dengan berlipat ganda.

Allah SWT berfirman: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.(QS.Al-Baqoroh 245).

Rezeki halal dan berkah dapat membawa manusia menuju ketentraman hati juga dapat mengantarkan kepada kemuliaan Tuhan. Maka dari sinilah arti pentingnya shalat dhuha ditengah-tengah kesibukan seseorang yang diiringi dengan istiqomah dalam menjalankan sholat dhuha akan berpengaruh bukan saja dapat memudahkan untuk memperoleh rezeki lebih dari itu juga dapat menyucikan rezeki. Artinya rezeki yang kita peroleh dapat terjaga kebersihannya bukan dari rezeki yang haram.

Karena pada prinsipnya, orang yang tengah merutinkan shalat dhuha ditengah-tengah kesibukannya mencari rezeki maka shalat itu dapat mengingatkan dirinya kepada Allah sekaligus dapat mengantarkan pada perisai keimanan. Karena shalat dhuha termasuk bagian dari shalat awwabin. Yakni shalanya orang-orang yang selalu kembali kepada Allah bertaubat dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak seorang pun yang senantiasa melaksanakan shalat sunnah dhuha kecuali dia termasuk awwabin (orang yang selalu kembali kepada Allah). Shalat sunnah dhuha adalah shalatnya orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah” (HR. Thabrani dari Abi Hurairah).

Jadi ketika sehari penuh kita berperang melawan hawa nafsu dan ambisi yang selalu memekik pikiran dan perasaan kita, maka ketika itu juga kita teringat kepada Allah. Sehingga upaya yang dilakukan dalam pekerjaan selalu mendapat jalan yang diridhoi oleh Allah. Inilah perang besar yakni perang melawan hawa nafsu yang akan dimenagkan jika seseorang telah melaksanakanshalat dalam hal ini adalah sholat dhuha.

Sebab dalam sebuah riwayat menegaskan bahwa sholat dhuha pahalanya tidak kalah dengan perang yang memanggul senjata. Demikianlah kiranya arti penting melakukan sholat dhuha yang dilakukan secara istiqomah. Harapannya dengan bekerja secara baik dan diimbangi dengan sholat dhuha. Keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan ruhani, keseimbangan antara kebutuhan yang bersifat materi dan spiritual. Karena itu jika diri sudah sanggup menata kleseimbangan tersebut, semoga kita dapat menikmati rezeki yang melimpah, halal dan berkah. Aamiin…




Aktivasi Sholat Dhuha dan Sinyal Pemancar Rezeki

Aktivasi Sholat Dhuha dan Sinyal Pemancar Rezeki



Setiap orang mempunyai nasib yang berbeda, namun nasib seseorang bisa berubah tergantung orang tersebut mau mengubahnya atau tidak. Si A mempunyai nasib yang jelek sedang si B mempunyai nasib yang baik, tetapi apa yang menjadi ukuran bahwa antara A dan B mempunyai nasib yang berbeda? Jawabanya berada pada diri kita masing-masing. Dalam hal ini, saya memakai pemahaman bahwa “rezeki ibarat sinyal pemancar”. Jika kita memberikan argumentasi demikian, maka kita akan mempunyai bukti.
 
Contohnya, kita mempunyai HP  yang dekat dengan transit pemancar maka hasil dari sinyal yang ada di HP semakin baik atau kuat. Namun, jika HP tersebut jauh

dari transit pemancar maka sinyal yang didapat semakin lemah. Semakin jauh lagi dari transit pemancar maka sangat mungkin HP tidak akan mendapat sinyal, walupun HP tersebut haraganya mahal. Naumun, karena HP tersebut dekat dengan transit, walaupun harganya murah maka sinyal yang ada dalam HP akan baik atau kuat.
 
Begitu juga apabila seorang hamba yang selalu dekat dengan Allah, maka Allah akan selalu memberikan kemudahan kepada hambanya. Namun, apabila seorang hamba jauh dengan Allah maka ia akan seperti HP yang jauh dari transit sebagaimana contoh di atas. Segala macam tujuan dan keinginan orang yang dekat dengan-Nya akan mudah pula dikabulkan-Nya. Karena dengan kedekatan seseorang hamba kepada Allah malalui tahap-tahap seperti selalu berusaha dengan maksimal, menjaga shalat lima waktu dan shalat dhuha seperti halnya sebuah pesawat HP yang dekat dengan sebuah pemancar ataupun transit pemancar, maka “sinyal” dengan Allah pun semakin kuat. 

 
Allah SWT berfirman: “Maka orang-orang yang beriman dan beramal shahih, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menetang ayat-ayat kami dengan melemahkan (kemauan unutk beriman) mereka adalah penghuni-penghuni neraka.” (QS.Al Hajj 22 : 50-51)

 
Demikian janji Allah kepada hambanya. Karena itu, tiada seorang yang dekat dengan Allah kemudian merasa disusahkan oleh-Nya dan tiada seorang yang jauh dari Allah yang akan merasa senang dan gembira. Terbukti, merka yang jauh dari Allah walaupun mempunyai harta yang melimpah, kehidupan seakan tidak berarti dan tidak mempunyai keseimbangan hidup. Tidak sedikit orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Padahal orang tersebut terbilang mempunyai kehidupan lebih mapan, apabila dibandingkan dengan orang yang miskin, yang hanya makan satu hari satu piring nasi saja. Tetapi, karena dirinya tidak mempunyai keseimbangan hidup, segala macam persoalan dirasakan sebagai bancana hidup yang semakin menjerat.

 
Dengan demikian, betapa pentingnya seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah, karena hal ini lebih mengarah pada kekuatan jiwa seseorang. Tetapi, bagi mereka yang selalu menjauh dari kebesaran Tuhan, mereka akan mengalami hal-hal yang paling parah, hingga memutuskan kehidupannya dengan hal-hal yang justru merugikan dir sendiri. Terutama persoalan yang berkaitan dengan materi, banyak mereka yang terjebak dengan penguasaan jiwa yang tidak stabil, sehingga kehidupannya semakin hari kian terpuruk. Untuk itu, dari semua yang terungkap, mendekatkan diri kepada Allah SWT meruakan wujud dari dasar kepercayaan dan keyakinan diri untuk bias membiasakan dalam langkah yang baik dan stabil. Tidak ada orang yang lebih kuat dan sempurna dimuka bumi ini.

 
Namun, setidaknya dengan kekurangan itu kita semakin sadar bahwa kita membutuhkan pertolongan dari sang maha penguasa yakni Allah SWT. Hal mana jika berkaitan dengan rezeki, maka tidak ada yang dapat diminta pertolongan kecuali Allah. Dan, Allah pun maha pemberi karena Allah maha punya  dari segala yang punya. Dari Dia-Lah segalanya ada, dari Dia-Lah kita sangat membutuhkan segalanya. Allah adalah “pemancar” kehidupan para hamba-Nya yang sangat kuat dan tiada yang lebih kuat selain Allah SWT. Dan tiada stasiun pemancar yang lebih sensitive selain rahmat dan hidayah-Nya yang selalu dipancarkan kepada hambanya yang beriman.

 
Allah akan memancarkan sinyal kehidupan bagi hambanya yang mau menengadah. Untuk itu, aktifkan hati dan perasaan anda agar pesawat hati anda mendapat sinyal yang lebih kuat. Dari kekuatan kekuatan sinyal hati maka anda akan lebih mudah dalam menerima keridhaan dari-Nya. Hati anda semakin terbuka dalam menerima segala informasi yang berbentuk firman-firman Allah dalam Al-Qur’an. Karena, informasi yang berada dalam Al-Qur’an lebih berharga dari informasi yang lainnya. Dalam informasi yang berupa firman-firman-Nya akan anda jumpai konsep-konsep dan cara untuk membuka rezeki yang dapat memberi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah pun tidak memandang hamba yang bewajah tampan atau tidak, cantik atau tidak, semua sama dalam pandangan-Nya. Karena, yang membuat sinyal itu kuat atau tidak tergantung jauh dekatnya seorang hamba kepadanya.
Oleh karena itu, jangan lupa iringilah selalu langkah usaha anda dengan mengistiqomahkan shalat dhuha. Sebab kenyataannya spiritual shalat dhuha dapat memberikan motivasi diri untuk selalu maju dan terus maju, disamping dapat memberikan arah gerak yang positif, terarahnya rencana dan dapat tercapainya tujuan. Sebab banyak orang yang sukses karena mengiringi usahanya dengan shalat dhuha. Demikian pula seorang teman saya, ia berkomentar, “Dengan sholat dhuha, segala rencana bisa berjalan dengan lancar tanpa halangan. Hal ini saya buktikan dengan perspektif ketika saya tidak melakukan shalat dhuha dan ketika saya melakukan sholat dhuha”.

 
Alhasil, dapat disimpulkan bahwa shalat dhuha merupakan shalatnya orang yang mempunyai kestabilan jiwa, bagaimana ia bisa melakukannya apalagi merutinkan jika hatinya saja labil. Benar bahwa jika shalat dhuha merupakan shalatnya orang-orang yang bertaubat. Sebab, kenyataannya untuk merutinkan shalat dhuha sungguh sangat berat bila tidak dipaksakan. Banyak dalih (alasan) yang mengatakan, “Sungguh aku lupa, karena aku selalu asyik dengan pekerjaanku. “ Bahkan, ada juga yang mengatakan, “ Rasanya malas sekali, karena ini waktu yang tanggung.” Ada lagi yang mengatakan, “Ah itu kan waktunya bekerja kok malah disuruh sholat, apakah kita mau makan shalat.” Dan seterusnya. 

 
Jangan ikuti pendapat itu, sebab itu hanya pantas diucapkan oleh orang-orang yang fasik, oleh orang-orang yang lupa dan oleh orang-orang yang tidak mempunyai prinsip hidup dinamis. Karena yang pasti kedinamisan hidup bisa dilihat dari orang hidupnya selalu seimbang. Seimbang keinginan lahir dan seimbang dengan kebutuhan spiritual. Dan kesimbangan ini bisa dibuktikan melalui aktifitas kerja yang diiring dengan melakukan sholat dhuha.

Jumlah Raka'at Sholat Dhuha

Jumlah Raka'at Sholat Dhuha


Beberapa hadits shahih menerangkan jumlah raka’at sholat dhuha yang biasa dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Ada yang menyebutkan cukup 2 (dua) raka’at. Ada pula yang menyebutkan 4 raka’at dan 8 raka’at. Bahkan ada juga yang mengisahkan bahwa Rasulullah mengerjakan sholat dhuha sebanyak 12 raka’at. Berikut hadits-hadits yang dimaksud:

SHOLAT DHUHA 2 RAKAAT
Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.”
[HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat kepadaku tiga perkara: [1] puasa tiga hari setiap bulan, [2] dua rakaat shalat Dhuha dan [3] melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”
[HR. Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad dan Ad-
Darami]

SHOLAT DHUHA 4 RAKAAT
Dari Mu’dzah, bahwa ia bertanya kepada Aisyah: “Berapa jumlah rakaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menunaikan shalat Dhuha?” Aisyah menjawab: “Empat rakaat dan beliau menambah bilangan rakaatnya sebanyak yang beliau suka.”
[HR. Muslim dan Ibnu Majah]

SHALAT DHUHA 8 RAKAAT
Dari Ummu Hani binti Abu Thalib, ia berkata: “Saya berjunjung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu (Penaklukan) Makkah. Saya menemukan beliau sedang mandi dengan ditutupi sehelai busana oleh Fathimah putri beliau”.
Ummu Hani berkata: “Maka kemudian aku mengucapkan salam”. Rasulullah pun bersabda: “Siapakah itu?” Saya menjawab: “Ummu Hani binti Abu Thalib”. Rasulullah SAW bersabda: “Selamat datang wahai Ummu Hani”. Sesudah mandi beliau menunaikan shalat sebanyak 8 (delapan) rakaat dengan berselimut satu potong baju. Sesudah shalat saya (Ummu Hani) berkata: “Wahai Rasulullah, putra ibu Ali bin Abi Thalib menyangka bahwa dia boleh membunuh seorang laki-laki yang telah aku lindungi, yakni fulan Ibnu Hubairah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “sesungguhnya kami juga melindungi orang yang kamu lindungi, wahai Ummu Hani”. Ummu Hani juga berkata: “Hal itu (Rasulullah shalat) terjadi pada waktu
Dhuha.” [HR. Muslim]

SHOLAT DHUHA 12 RAKAAT

Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di surga”.
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah raka’at sholat dhuha minimal 2 raka’at dan maksimal 12 raka’at, dilakukan secara munfarid (sendirian).

Sholat Dhuha Setiap Pagi: Kunci Meraih Rizki Sepanjang Hari

Sholat Dhuha Setiap Pagi: Kunci Meraih Rizki Sepanjang Hari



Dalam doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT, kita selalu menyelipkan permohonan doa agar di mudahkan meraih rezeki-Nya dari arah yang tak terduga...min haitsu laa yahtasib. Pertanyaannya, bagaimana agar rezeki kita dimudahkan? Adakah ibadah membantu kita untuk memperlancar datangnya rezeki?

Ternyata Rasulullah telah mencontohkannya untuk kita teladani, yaitu dengan shalat dhuha. Shalat dhuha adalah ibadah shalat yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Shalat sunnat ini yang dilakukan seorang muslim saat waktu dhuha.Waktu dhuha tiba saat matahari mulai naik, kira-kira tujuh hasta sejak terbitnya. Jumlah rakaat shalat dhuha, dari dua hingga duabelas rakaat.Meskipun bernilai sunnah, shalat ini mengandung manfaat yang sangat besar bagi umat Islam. Salah satunya adalah membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahannya.

Rasulullah bersabda di dalam Hadists Qudsi,“Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim dan Thabrani). Dalam hadist yang lain dikatakan,“Barangsiapa yang masih berdiam diri di mesjid atau tempat shalatny setelah shubuh karena melakukan I’tikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun bnyaknya melebihi buih di lautan.” (HR. Abu Daud)

"Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus disedekahkan untuk setiap ruas itu." Para shahabat bertanya, "Siapa yang kuat melaksanakan itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, "Dahak yang di masjid itu lalu ditutupinya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah. Atau, sekiranya tidak dapat melakukan itu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat shalat dhuha." (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Shalat-shalat sunah sangat dianjurkan. Karena ada faedah yang terkandung di dalamnya. Salah satunya untuk membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahannya. Di antara shalat sunah tersebut adalah shalat dhuha.Hadits Rasulullah SAW terkait shalat dhuha antara lain :"Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan." (H.R Turmudzi).

Rezeki adalah hak semua orang dan kemiskinan mendekati kekufuran, maka ibadah dan usaha adalah jawabannya.Dengan mengenal keutamaan dan keajaiban shalat dhuha, semoga kita akan lebih tergerak untuk merawat shalat sunah ini.

Kisah Keajaiban Sholat Dhuha (Bagian 1)

Kisah Keajaiban Sholat Dhuha (Bagian 1)

BERAT MENINGGALKAN SHALAT DHUHA

Shalat Dhuha biasa saya lakukan sebanyak 2 atau 4 rakaat. Insya Allah, hal tersebut saya laksanakan setiap hari. Namun ketika aktivitas saya padat atau sedang ada pekerjaan yang memang tidak mungkin ditinggalkan seperti ketika sedang dalam perjalanan, dengan berat hati saya tidak bisa melaksanakan shalat Dhuha.

Istiqamah melaksanakan shalat Dhuha membuat saya bangga karena shalat sunat yang satu ini dilaksanakan di sela-sela padatnya aktivitas sehari-hari dan tidak semua orang mampu melaksanakannya.

Sulit menggambarkan keindahan shalat Dhuha. Tapi yang jelas, setelah rutin melaksanakan shalat Dhuha, pikiran saya lebih tenang dan semakin yakin akan janji Allah Swt. yang menjamin hamba-Nya dalam hal materi, jodoh, kesehatan, dan rezeki yang lainnya. (Jauhar Al-Zanki - Volunteer Syamsi Dhuha Foundation)

HATI LEBIH TERJAGA DENGAN SHALAT DHUHA

Alhamdulillah, selama ini saya selalu dapat berupaya melaksanakan shalat Dhuha di tengah-tengah aktivitas pagi hari sekitar pukul 8.00 WIB. Subhanallah, banyak hikmah yang dapat kita rasakan setelah melaksanakan shalat sunat ini. Harapan saya melalui shalat Dhuha ini adalah semoga ibadah yang dilaksanakan ini menjadi amal saleh yang dapat diterima oleh Allah Swt.

Dengan shalat Dhuha, saya merasa hati terasa lapang dan lebih terjaga, lebih optimis menjalani hidup, serta merasakan keberkahan hidup yang saya jalani ini. Insya Allah, saya akan senantiasa beristiqamah mengerjakan shalat Dhuha. Amin. (Helin Herlina - Odapus Syamsi Dhuha Foundation)

Sumber: majalahpercikaniman.blogspot.com


Rahasia Sholat Dhuha Yang Harus Kita Ketahui

Rahasia Sholat Dhuha Yang Harus Kita Ketahui 



Allah SWT dalam beberapa ayat bersumpah dengan waktu dhuha. Dalam pembukaan surat Assyams, Allah berfirman, ''Demi matahari dan demi waktu dhuha.'' Bahkan, ada surat khusus di Alquran dengan nama Addhuha.

Pada pembukaannya, Allah berfirman, ''Demi waktu dhuha.'' Imam Arrazi menerangkan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting. Benar, waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting. Di antara doa Rasulullah SAW: Allahumma baarik ummatii fii bukuurihaa. Artinya, ''Ya Allah berilah keberkahan kepada umatku di waktu pagi.''

Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif dan bangun di waktu pagi (waktu subuh dan dhuha) untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal, ia akan mendapatkan keberkahan. Sebaliknya, mereka yang terlena dalam mimpi-mimpi dan tidak sempat shalat Subuh pada waktunya, ia tidak kebagian keberkahan itu.

Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadis. Rasulullah SAW bersabda, ''Bagi tiap-tiap ruas anggota tubuh kalian hendaklah dikeluarkan sedekah baginya setiap pagi. Satu kali membaca tasbih (subhanallah) adalah sedekah, satu kali membaca tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, satu kali membaca takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh berbuat baik adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan, semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha.'' (HR Muslim).

Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat Dhuha empat rakaat. Dalam riwayat Ummu Hani', ''Kadang Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha sampai delapan rakaat.'' (HR Muslim). Imam Attirmidzi dan Imam Atthabrani meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa bila seseorang melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu ia berdiam di tempat shalatnya sampai tiba waktu dhuha, kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha, ia akan mendapatkan pahala seperti naik haji dan umrah diterima. Para ulama hadis merekomendasikan hadis ini kedudukannya hasan.

Jelaslah bahwa shalat Dhuha sangat penting bagi orang beriman. Penting bukan karena--seperti yang banyak dipersepsikan--shalat Dhuha ada hubungannya dengan mencari rezeki, melainkan ia penting karena sumpah Allah SWT dalam Alquran. Maka, sungguh bahagia orang-orang beriman yang memulai waktu paginya dengan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan dengan shalat Dhuha.